Pahitnya Buah Ketergesaan

Pahitnya Buah Ketergesaan

 Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”

(QS Al-Anbiyâ’, 21:37)

Hidup adalah sekumpulan pilihan. Setiap saat, setiap waktu, dan di setiap tempat kita diharuskan untuk memilih satu di antara dua atau beberapa hal yang terlihat sama pentingnya dan sama baiknya. Setelah memilih cerita pun tidak lantas berlalu. Ada konsekuensi-konsekuensi yang harus kita tanggung dari pilihan tersebut; ada pertanggungjawaban yang harus kita terima, baik ataupun buruk. Itulah mengapa, mengedepankan proses berpikir sebelum bertindak menjadi sebuah tindakan bijak sehingga konsekuensi yang timbul dari hasil memilih tersebut tidak membawa kemudharatan.

Namun sayang, keputusan yang kita ambil seringkali hanya didasari pertimbangan jangka pendek dan hanya berorientasi keuntungan sesaat. Ada banyak keputusan diambil tanpa melakukan studi yang mendalam tentang dampak yang ditimbulkannya. Inilah yang dinamakan ketergesa-gesaan. Al-Quran pun mengabarkan, ”… Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS Al-’Isrâ, 17:11)

Tergesa-gesa pada dasarnya adalah tindakan yang tidak didasarkan atas informasi yang benar, akurat, lengkap, dan sahih, hanya berdasar kata orang, rumor atau informasi yang sepotong-sepotong, dan keinginan untuk mendapatkan hasil dengan cara mudah. Maka, jangan heran apabila tindakan tergesa-gesa berakhir dengan tidak menggembirakan. Sesungguhnya setan amat menyukai orang ceroboh yang bertindak tanpa perhitungan.

Proses semacam ini tidak hanya terjadi pada skala birokrat ataupun korporat, melainkan dialami dan dilakukan dengan sadar oleh kita sendiri. Dalam skala pribadi contoh nyata adalah membuang sampah tidak pada tempatnya atau menghentikan angkutan umum bukan di haltenya. Tampak sepele, tetapi dalam konsep Islam kebiasaan yang terus diulang adalah suatu bentuk riyadhah (pelatihan). Apabila kita melatih diri untuk menafikan dan mengeliminasi kedisiplinan serta mengabaikan peringatan nurani, pada tingkatan yang lebih besar kita akan terbiasa melakukan pembenaran (legitimasi) terhadap kesalahan. Perilaku instan atau menginginkan segalanya tercapai melalui upaya minimal pada akhirnya akan menjadi karakter yang berurat dan berakar serta sulit diuraikan.

Nah, ketika kesenangan dan kenyamanan telah dimunculkan sebagai sebuah tujuan, kemudian manusia menjadi tidak sabar dan berlaku tergesa-gesa untuk mencapainya, kerja sistem tubuh pun tidak optimal. Akibatnya, ambang batas kita untuk memaknai dan mencerna kegagalan, kesedihan dan kekecewaan menjadi sangat berkurang.

***

Oleh karena itu, kita jangan heran apabila angka penyalahgunaan obat terlarang semakin meningkat dari hari ke hari. Bagi masyarakat yang sedang sakit, obat-obatan terlarang seolah menjadi jalan pintas yang menawarkan banyak kesenangan dengan banyak kemudahan. Padahal, Zat Yang Mahakuasa telah mengaruniakan kepada kita senyawa preopioid mela-nocortin (POMC) yang ada di otak. Senyawa ini akan meningkat kadarnya secara bertahap sesuai dengan upaya, usaha, dan doa. Setiap tetes keringat manusia akan dihargai Allah Ta’ala dengan imbalan yang setimpal.

Secara biomedik, selain kegagalan berprestasi dalam berbagai bidang kehidupan, kondisi seperti ini akan memunculkan penyakit-penyakit degeneratif. Apa maksudnya? Akan lahir sebuah kondisi di mana sistem tubuh kita melemah dan mudah mengalami kerusakan struktural. Sebagai contoh kerusakan sel-sel pankreas karena adanya kekacauan pengaturan kadar gula darah, dan sebagainya.

Kelainan lain adalah kerusakan dinding pembuluh darah, khususnya sel endotel atau sel pelapis dinding pembuluh darah sebelah dalam. Kerusakan sel endotel biasanya terjadi karena arus pembuluh darah yang tidak kuat, terkadang sangat deras dan terkadang pula sangat lemah. Keadaan ini sesuai dengan ritme jantung orang yang gelisah. Lambat laun dinding pembuluh darah akan terlukai. Akibat dari proses penyembuhan luka dapat terbentuk jaringan ikat dan jaringan lemak pada pembuluh darah, khususnya pembuluh darah jantung (pembuluh koroner). Kondisi semacam ini akan mengakibatkan terjadinya penyumbatan. Penyakit ini kita kenal sebagai jantung koroner.

Demikianlah, sesuatu yang instan alias tidak mencintai proses, kemungkinan besar akan melahirkan penyakit instan pula. ***

[Oleh : Tauhid Nur Azhar ]

Leave a Reply

Your email address will not be published.