Sedekah untuk Melembutkan Hati

Sedekah untuk Melembutkan Hati

Ini adalah kejadian yang membuat saya merenung sekaligus malu dengan putri saya yang masih TK. Suatu hari, saat saya mengantarkan putri pertama saya sekolah, saya terlebih dahulu mampir ke sebuah mini market dekat sekolah untuk membeli bekal putri saya. Sebuah susu kotak dan biskuit coklat diambilnya. Hanya itu.

Tiba-tiba, saat kami akan mengantre di kasir, ada seorang nenek yang terlebih dahulu antre dengan membawa sepotong roti. Usianya lebih dari 60 an dan  kondisinya mengkhawatirkan. Bajunya sangat kotor dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Jika diperhatikan, (maaf) nenek ini seperti yang tidak pernah mandi dan ganti baju selama berminggu-minggu.

Tibalah giliran si nenek membayar belanjaannya:

Nenek: berapa neng? (Tanya si nenek)

Kasir: Lima ribu bu

Nenek: aduh (sedikit kecewa)

Setelah tahu harga sepotong roti yang diambilnya itu, si nenek lantas berbalik badan dan mengembalikan roti tersebut ke tempat semula. Rupanya si nenek tidak jadi membeli rotinya karena harganya tidak sesuai dengan keinginannya. Saya dan anak saya memperhatikan kejadian langka itu. Tanpa kata-kata, setelah si nenek berlalu, saya berbalik badan dan mengambil kembali roti yang ingin dibeli si nenek.

Setelah sampai di kasir, saya membayar roti dan jajanan anak saya sambil berharap si nenek tak pergi jauh-jauh. Saat akan membayar belanjaan saya, tiba-tiba anak saya memegang tangan saya dan menatap saya, menandakan ada sesuatu yang diinginkannya. Matanya sedikit berkaca-kaca tampak banyak sekali pertanyaan.

Di luar dugaan, saat saya akan mengejar si nenek tadi, anak saya menyatakan keinginannya membagi bekalnya untuk si nenek tadi. Mendengar perkataan polosnya, saya hanya bisa tersenyum dan menahan gemuruh di dada. Hampir saja saya menangis di depannya. Setelah berhasil mengejar si nenek, saya berikan roti yang diinginkannya itu.

Misi pagi itu berhasil dan saatnya pergi ke sekolah. Di perjalanan, sepertinya masih mengingat kejadian itu. Saya lihat dia masih berpikir dan ingin berbuat sesuatu. Tiba-tiba, ia meminta sedikit uang bekal lebih. Katanya, ia akan membagikan uangnya itu ke pengemis tua yang suka melintas ke sekolahnya. Kembai terharu, saya hanya bisa mengiyakan.

Lain si kaka, lain si adik. Siadik yang baru usia 2,5 tahun ini juga sering membuat ayahibunya geleng-geleng kepala. Setiap ada pengamen atau pengemis datang ke rumah, ketika anak tetangga sibuk menutup rumah, ia malah sibuk membuka pintu dan meminta dengan paksa recehan untuk diberikan kepada pengamen atau pengemis itu. Masya Allah, Allah lah yang menggerakkan semuanya dan tugas kami sebagi orangtua hanya bisa berusaha memberikan contoh untuk mendidik anak-anak saya.

Di luar dugaan, contoh “sedekah kecil-kecilan” itu ternyata sangat memengaruhi karakter anak saya, terutama si kakak. Hatinya menjadi lembut dan mudah terharu ketika melihat orang kesulitan.

(Abu Salman)

Leave a Reply

Your email address will not be published.