Merdeka dari Cinta Dunia

Merdeka dari Cinta Dunia

Tujuan manusia diciptakan di dunia ini oleh Allah SWT adalah untuk beribadah kepada-Nya. Bentuk ibadah itu berupa melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Namun kita terkadang dibuat lalai oleh segala perhiasan dunia. Sehingga menjadikan kita lebih banyak cinta kepada dunia.

Apa bentuk cinta dunia itu? Yaitu mengukur kesuksesan dinilai dari harta yang telah ia dapatkan. Setelah mendapatkan kesuksesan berupa materi, terkadang manusia terbelenggu oleh harta yang dimiliki. Seolah tidak ingin harta berkurang, maka berbagai cara pun dilakukan demi menambah lagi harta, walaupun didapatkan dengan cara yang tidak baik.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Kahfi ayat 46 yang artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan”.

Berdasarkan surat Al-Kahfi di atas, harta hanyalah perhiasan. Jadi tidak baik bagi kita untuk menjadikannya standar kesuksesan dan kebahagiaan diri. Tidak sedikit kita mendengar orang-orang yang berada di tengah puncak karir, namu kematiannya amatlah tragis karena terbelenggu oleh rasa cinta dunia yang berlebihan.

Bagaimana caranya menaklukkan nafsu cinta dunia? Yaitu dengan berwakaf. Wakaf adalah amal jariyah yang pahalanya terus mengalir walaupun kita sudah meninggal. Dapat dibayangkan, harta yang dibelanjakan untuk hal-hal yang memuaskan nafsu dunia semata, belum tentu mengundang pahala. Tetapi jika harta itu diwakafkan, maka pahalanya mengalir terus hingga hari akhir.

Rasulullah saw bersabda; “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu : sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakan orangtuanya”. (HR. Muslim no. 1631).

Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid (DT) dapat menjadi jalan bagi sahabat untuk menyalurkan wakaf. Berwakaf, berarti kita sudah berikhtiar untuk menjadi manusia merdeka. Merdeka dari cinta dunia, merdeka dari hawa nafsu yang tiada henti mengejar materi.  Hidup menjadi lebih fokus mempersiapkan amal setelah kematian.

Berwakaf tidak harus dalam jumlah yang besar. Kita bisa menyesuaikan dengan kemampuan harta yang dimiliki. Jika memiliki niat yang kuat untuk istiqamah berwakaf, insyaAllah akan diberi keberkahan oleh Allah SWT. (Desi Hardianti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.