Lisan setelah Keimanan

Lisan setelah Keimanan

Abu Hurairah ra. Meriwayatkan sebuah keterangan bahwasanya Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang hal yang paling banyak memasukkan manusia ke surga, Rasulullah Saw. bersabda, “Takwa kepada Alloh dan akhlak yang mulia.” Kemudian, beliau juga ditanya tentang hal yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka, Rasulullah Saw. bersabda, “Mulut dan farji (kemaluan).” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad).

Dalam hadits yang lain Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Saudaraku, lisan adalah urusan yang sangat berpotensi menjerumuskan pemiliknya pada malapetaka jikalau ia tidak bisa menjaganya dengan baik. Oleh karena itulah Rasulullah Saw. menempatkan lisan sebagai faktor – setelah urusan keimanan – yang bisa mengantarkan seseorang kepada surga atau neraka.

Lisan ini seperti pisau yang sangat tajam, yang jika kita tidak terampil atau ceroboh menggunakannya malah bisa berbalik melukai kita. Bagaimana bisa demikian? Karena lisan bisa melontarkan kesombongan, melontarkan ghibah, fitnah, kebohongan-kebohongan, menyakiti orang lain, menimbulkan permusuhan di antara manusia.

Lisan juga bisa melontarkan riya dan sum’ah, yaitu membincangkan amal-amal yang sudah dilakukan oleh diri demi dipandang hebat, dipandang dermawan, dipandang baik oleh orang lain. Atau mengungkit-ungkit kebaikan dihadapan orang yang pernah diberi atau dibantu oleh kita. Inilah contoh kebusukan-kebusukan yang bisa dilakukan oleh lisan.

Oleh karena itu saudaraku, semoga kita semakin terampil menjaga lisan kita. Semakin berhati-hati mengontrol apa yang ingin kita ucapkan. Jauhkan lisan dari celetukan-celetukan dan omongan yang sia-sia, karena ini bisa membantu kita membiasakan diri menjaga lisan dari dosa. Semoga kita termasuk orang-orang yang selamat karena bisa menjaga lisan kita. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin. 

[KH. Abdullah Gymnastiar]

Leave a Reply

Your email address will not be published.